Bertemu Ulama Aceh, Tito Karnavian Soroti Peran Dukungan Spiritual bagi Penyintas Bencana Aceh Besar

Aceh Besar – Ketua Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menekankan pentingnya penguatan spiritual bagi para penyintas bencana, khususnya di wilayah Aceh Besar.

Menurut Tito, dukungan mental dan keagamaan menjadi elemen krusial dalam proses pemulihan korban bencana, di samping pembangunan infrastruktur dan pemulihan ekonomi. Oleh karena itu, peran tokoh agama, khususnya ulama, dinilai sangat strategis dalam memberikan ketenangan batin serta kekuatan moral kepada masyarakat terdampak.

Hal tersebut disampaikan Tito saat menghadiri forum Silaturahmi Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia dengan Ulama Aceh yang digelar di Dayah Mahyal Ulum Al Aziziyah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (10/2/2026).

“Mohon dukungan dan juga mohon doanya agar kami bisa menjalankan ibadah ini, ibadah kemanusiaan ini,” ujar Tito di hadapan para ulama dan tokoh masyarakat Aceh.

Tito mengapresiasi peran ulama Aceh yang secara konsisten hadir di tengah masyarakat untuk memberikan penguatan mental dan spiritual kepada para pengungsi. Ia menegaskan bahwa keterlibatan ulama merupakan bagian penting dari proses pemulihan menyeluruh pascabencana.

Lebih lanjut, Tito menyampaikan bahwa pemerintah pusat berkomitmen melakukan penanganan dampak bencana di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat secara terpadu dan berkelanjutan. Penanganan tersebut mencakup aspek tanggap darurat, rehabilitasi, hingga rekonstruksi.

Tito juga menuturkan bahwa sejak hari pertama bencana terjadi, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan seluruh unsur pemerintah, termasuk para menteri, TNI, dan Polri, untuk bergerak cepat menuju wilayah terdampak guna memastikan penanganan berjalan optimal.

Pemerintah, kata Tito, telah memetakan sebanyak 52 daerah terdampak yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dari hasil pemetaan tersebut, Provinsi Aceh tercatat sebagai wilayah yang mengalami dampak cukup parah dibandingkan daerah lainnya.

“Sehingga semua kekuatan kemudian difokuskan ke Aceh, tanpa menafikan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Tetap ada alokasi dan pembagian tugas yang jelas,” jelas Tito.

Ia berharap, dengan sinergi antara pemerintah, aparat, dan para ulama, proses pemulihan pascabencana dapat berjalan lebih cepat dan menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat, baik fisik maupun spiritual



Jakarta
– Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus memperkuat komitmen untuk membersihkan institusi peradilan dari praktik korupsi. Upaya tersebut dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui penindakan, tetapi juga lewat pendekatan pendidikan dan pencegahan yang berkelanjutan.

Wakil Ketua KPK Ibnu Basuki Widodo menyampaikan bahwa langkah pencegahan telah dilakukan jauh sebelum operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Depok beberapa waktu lalu. KPK, kata dia, juga bersinergi dengan Mahkamah Agung (MA) dalam penguatan aspek pencegahan dan pendidikan antikorupsi.

“Kami sudah turun langsung ke sejumlah wilayah untuk memetakan risiko korupsi di lingkungan peradilan, seperti di Pengadilan Tinggi Semarang, Surabaya, Manado, hingga Yogyakarta. Kami kumpulkan rekan-rekan hakim tinggi, para ketua dan wakil ketua pengadilan, hingga panitera sekretaris,” ujar Ibnu kepada awak media di Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Dalam pertemuan tersebut, KPK mendiskusikan berbagai potensi celah terjadinya tindak pidana korupsi di lingkungan peradilan. Dari hasil pemetaan itu, KPK menekankan penguatan budaya don’t want corruption atau tidak memiliki keinginan untuk melakukan korupsi.

“Strategi KPK dalam menangani korupsi terdiri dari tiga pilar utama, yakni pendidikan, pencegahan, dan penindakan. Pendidikan bertujuan membangun mentalitas individu agar tidak memiliki keinginan untuk korupsi. Pencegahan difokuskan pada perbaikan sistem agar tindak pidana sulit dilakukan,” jelas Ibnu.

Sementara itu, penindakan tetap dijalankan secara tegas terhadap setiap pelanggaran yang terjadi. Namun, Ibnu menekankan bahwa upaya pencegahan dan pendidikan harus dikedepankan.

“Kalau penindakan, itu artinya pelanggaran sudah terjadi. Tentu harus ditindak tegas. Tapi alangkah lebih baik jika kita mengutamakan mendidik dan mencegah,” tegasnya.

Ibnu juga memastikan bahwa KPK menyasar akar regenerasi penegak hukum dengan menggandeng Mahkamah Agung untuk memberikan pendidikan antikorupsi secara masif, khususnya bagi para calon hakim.

“Dengan membekali integritas sejak dini, diharapkan generasi baru hakim di Indonesia memiliki imunitas yang kuat terhadap godaan suap maupun gratifikasi di masa depan,” ujarnya.

Langkah kolaboratif tersebut dinilai menjadi sinyal kuat keseriusan KPK dan Mahkamah Agung dalam mengembalikan kepercayaan publik terhadap marwah institusi peradilan di Tanah Air.


Awal Mula Terbongkarnya Kasus Suap Ketua dan Wakil Ketua PN Depok

Sebelumnya, KPK mengungkap awal mula terbongkarnya kasus dugaan suap yang menjerat Ketua dan Wakil Ketua PN Depok, I Wayan Eka Mariarta dan Bambang Setyawan. Perkara ini terkuak berawal dari pengajuan percepatan eksekusi pengosongan lahan.

Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu menjelaskan, pengajuan tersebut disampaikan oleh PT Karabha Digdaya (KD), anak usaha Kementerian Keuangan, yang telah memenangkan sengketa lahan dengan masyarakat sejak 2023.

“Pada 2023, PN Depok mengabulkan gugatan PT KD dalam sengketa lahan seluas 6.500 meter persegi di Kecamatan Tapos, Kota Depok. Putusan tersebut dikuatkan hingga tingkat banding dan kasasi,” ujar Asep di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (6/2/2026) malam.

Pada Januari 2025, PT Karabha Digdaya mengajukan permohonan eksekusi pengosongan lahan kepada PN Depok. Namun hingga Februari 2025, eksekusi tersebut belum juga dilaksanakan, meskipun pihak perusahaan telah beberapa kali mengajukan permohonan lanjutan.

Di sisi lain, masyarakat mengajukan upaya peninjauan kembali atas putusan tersebut pada Februari 2025. Dalam rentang waktu itulah, I Wayan Eka Mariarta dan Bambang Setyawan diduga meminta Juru Sita PN Depok, Yohansyah Maruanaya, untuk menjadi perantara komunikasi dengan pihak PT Karabha Digdaya.

Menurut Asep, Yohansyah diminta menyampaikan permintaan imbalan kepada pihak perusahaan sebagai kompensasi percepatan eksekusi pengosongan lahan.

“Yohansyah kemudian bertemu dengan Head Corporate Legal PT Karabha Digdaya, Berliana Tri Kusuma, di sebuah restoran di Depok untuk membahas waktu eksekusi dan permintaan fee. Di situ terlihat adanya permintaan kompensasi atas percepatan pelaksanaan eksekusi,” jelas Asep.


Minta Fee Rp 1 Miliar, Disepakati Rp 850 Juta

Dalam proses tersebut, Berliana menyampaikan permintaan tersebut kepada Direktur Utama PT Karabha Digdaya, Trisnadi Yulrisman. Namun, pihak perusahaan menyatakan keberatan atas nilai awal sebesar Rp 1 miliar.

“Dalam perkembangannya, disepakati besaran fee percepatan eksekusi sebesar Rp 850 juta,” kata Asep.

Bambang Setyawan kemudian menyusun resume pelaksanaan eksekusi yang menjadi dasar diterbitkannya penetapan eksekusi pengosongan lahan oleh Ketua PN Depok pada 14 Januari 2026.

“Jika dilihat, permohonan sudah diajukan sejak Januari 2025 dan baru ditetapkan pada Januari 2026. Artinya, proses ini memakan waktu sekitar satu tahun,” ujarnya.

Eksekusi pengosongan lahan kemudian dilaksanakan oleh Yohansyah. Setelah itu, Berliana menyerahkan uang sebesar Rp 20 juta kepada Yohansyah.

Selanjutnya, pada Februari 2026, Berliana kembali bertemu dengan Yohansyah di sebuah arena golf dan menyerahkan uang sebesar Rp 850 juta. Dana tersebut bersumber dari pencairan cek dengan underlying pembayaran invoice fiktif PT SKBB Consulting Solusindo, konsultan PT Karabha Digdaya.


Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima audiensi lima pengusaha besar nasional di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, Selasa (10/2/2026) malam. Pertemuan tersebut menjadi forum strategis untuk menyerap berbagai masukan dari pelaku usaha terkait tantangan dan peluang perekonomian nasional ke depan.  Audiensi ini diselenggarakan atas permintaan para pengusaha yang ingin berdiskusi langsung dengan Presiden Prabowo. Lima pengusaha nasional yang hadir yakni Prajogo Pangestu (Barito Pacific Group), Anthony Salim (Salim Group), Franky Widjaja (Sinar Mas Group), Boy Thohir (Adaro Energy), serta Sugianto Kusuma atau Aguan (Agung Sedayu Group).  Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha melalui semangat Indonesia Incorporated guna memperkuat daya saing nasional serta mempercepat pembangunan.  “Pembangunan industri harus berdampak langsung bagi rakyat, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian bangsa,” ujar Presiden Prabowo dikutip dari siaran pers, Rabu (11/6/2026).  Presiden juga mengajak para pengusaha untuk terus berkolaborasi dalam membuka dan memperluas lapangan pekerjaan, memperkuat sektor riil, serta mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian nasional.  Merespons hal tersebut, para pengusaha menyampaikan komitmen bersama untuk mendukung penuh arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo. Dukungan tersebut meliputi upaya pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas gizi dan pendidikan anak-anak, hingga pembangunan industri yang berpihak pada kepentingan bangsa.  Audiensi yang berlangsung selama kurang lebih empat jam, mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB, berjalan dalam suasana penuh semangat gotong royong sebagai wujud penguatan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha. Pertemuan ini tidak hanya menjadi forum diskusi strategis, tetapi juga ajang silaturahmi untuk menyamakan langkah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.  Sebelumnya, Presiden Prabowo juga menerima audiensi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, Senin (9/2/2026) malam. Dalam pertemuan tersebut, Presiden kembali menekankan pentingnya sektor industri memberikan manfaat nyata bagi rakyat serta menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.  Berdasarkan siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah, pertemuan yang berlangsung sejak pukul 18.50 WIB hingga 22.00 WIB itu dihadiri oleh 22 pengusaha dan berjalan hangat serta penuh semangat kebersamaan. Selama kurang lebih tiga jam, Presiden Prabowo dan para pengusaha berdiskusi serta bertukar pandangan mengenai kondisi ekonomi nasional dan tantangan dunia usaha ke depan.  Presiden mendengarkan berbagai masukan dan aspirasi pelaku usaha, termasuk pandangan terkait arah kebijakan ekonomi nasional. Ia kembali menegaskan pentingnya semangat Indonesia Incorporated sebagai fondasi kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.  “Pembangunan industri harus memberikan manfaat nyata bagi rakyat, membuka lapangan kerja seluas-luasnya, dan memperkuat kemandirian bangsa,” tegas Presiden Prabowo, Selasa (10/2/2026).  Adapun 22 pengusaha APINDO yang hadir antara lain Sofjan Wanandi, Sudamek, Suryadi Sasmita, Haryanto Adikoesoemo, Mucki Tan, Harijanto, Johny Darmawan, Shinta W. Kamdani, Sanny Iskandar, Eddy Hussy, Soegianto Nagaria, Lindrawati Widjojo, Hendra Widjaja, Budiarsa Sastrawinata, Ronald Walla, Adhi Lukman, Raymond Gunawan, Dedy Rochimat, Kris Adidarma, Leo Julianto Sutedja, dan Harry Lukminto.

Jakarta
– Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima audiensi lima pengusaha besar nasional di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, Selasa (10/2/2026) malam. Pertemuan tersebut menjadi forum strategis untuk menyerap berbagai masukan dari pelaku usaha terkait tantangan dan peluang perekonomian nasional ke depan.

Audiensi ini diselenggarakan atas permintaan para pengusaha yang ingin berdiskusi langsung dengan Presiden Prabowo. Lima pengusaha nasional yang hadir yakni Prajogo Pangestu (Barito Pacific Group), Anthony Salim (Salim Group), Franky Widjaja (Sinar Mas Group), Boy Thohir (Adaro Energy), serta Sugianto Kusuma atau Aguan (Agung Sedayu Group).

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha melalui semangat Indonesia Incorporated guna memperkuat daya saing nasional serta mempercepat pembangunan.

“Pembangunan industri harus berdampak langsung bagi rakyat, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian bangsa,” ujar Presiden Prabowo dikutip dari siaran pers, Rabu (11/6/2026).

Presiden juga mengajak para pengusaha untuk terus berkolaborasi dalam membuka dan memperluas lapangan pekerjaan, memperkuat sektor riil, serta mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Merespons hal tersebut, para pengusaha menyampaikan komitmen bersama untuk mendukung penuh arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo. Dukungan tersebut meliputi upaya pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas gizi dan pendidikan anak-anak, hingga pembangunan industri yang berpihak pada kepentingan bangsa.

Audiensi yang berlangsung selama kurang lebih empat jam, mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB, berjalan dalam suasana penuh semangat gotong royong sebagai wujud penguatan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha. Pertemuan ini tidak hanya menjadi forum diskusi strategis, tetapi juga ajang silaturahmi untuk menyamakan langkah dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebelumnya, Presiden Prabowo juga menerima audiensi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) di Padepokan Garudayaksa, Hambalang, Bogor, Senin (9/2/2026) malam. Dalam pertemuan tersebut, Presiden kembali menekankan pentingnya sektor industri memberikan manfaat nyata bagi rakyat serta menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.

Berdasarkan siaran pers Badan Komunikasi Pemerintah, pertemuan yang berlangsung sejak pukul 18.50 WIB hingga 22.00 WIB itu dihadiri oleh 22 pengusaha dan berjalan hangat serta penuh semangat kebersamaan. Selama kurang lebih tiga jam, Presiden Prabowo dan para pengusaha berdiskusi serta bertukar pandangan mengenai kondisi ekonomi nasional dan tantangan dunia usaha ke depan.

Presiden mendengarkan berbagai masukan dan aspirasi pelaku usaha, termasuk pandangan terkait arah kebijakan ekonomi nasional. Ia kembali menegaskan pentingnya semangat Indonesia Incorporated sebagai fondasi kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.

“Pembangunan industri harus memberikan manfaat nyata bagi rakyat, membuka lapangan kerja seluas-luasnya, dan memperkuat kemandirian bangsa,” tegas Presiden Prabowo, Selasa (10/2/2026).

Adapun 22 pengusaha APINDO yang hadir antara lain Sofjan Wanandi, Sudamek, Suryadi Sasmita, Haryanto Adikoesoemo, Mucki Tan, Harijanto, Johny Darmawan, Shinta W. Kamdani, Sanny Iskandar, Eddy Hussy, Soegianto Nagaria, Lindrawati Widjojo, Hendra Widjaja, Budiarsa Sastrawinata, Ronald Walla, Adhi Lukman, Raymond Gunawan, Dedy Rochimat, Kris Adidarma, Leo Julianto Sutedja, dan Harry Lukminto.


 

Gaza’s Border With Egypt Reopens, but Returnees Face a Lengthy Ordeal

Rafah — Gaza’s border crossing with Egypt has partially reopened, allowing the first groups of displaced Palestinians to return to the besieged territory after nearly two years. The returnees passed through the Rafah crossing, Gaza’s only remaining gateway to the outside world, amid ongoing restrictions and security concerns.

Navigating strict border controls, the threat of armed gangs, and continued airstrikes, the returning Palestinians described the journey as long and difficult. Despite the reopening, the Rafah crossing remains a major bottleneck, with only limited numbers of people permitted to cross in either direction.

Last week, dozens of Gaza residents who had traveled to Egypt for medical treatment were finally allowed to return to the war-ravaged enclave. Their passage marked the first significant movement of returnees since the crossing was shut down following Israel’s seizure of the Rafah land border in May 2024.

The full reopening of the Rafah crossing for the movement of people and goods was a central provision of the October ceasefire agreement between Israel and Hamas, as well as a key element of the Trump administration’s 20-point peace plan. However, four months later, restrictions imposed by Israel — and reportedly by Egypt — continue to limit access.

The Israeli military body responsible for administering civilian affairs in the occupied territories, the Coordinator of Government Activities in the Territories (COGAT), said in a statement last week that a partial reopening of the crossing to passengers began on Sunday as a “pilot” initiative. The move, according to COGAT, is intended to “test and assess the operation of the crossing.”

While the limited reopening offers a measure of relief to displaced civilians, humanitarian groups warn that the continued restrictions at Rafah are slowing the return of residents and the delivery of critical aid. For many Palestinians, the journey home remains uncertain, underscoring the fragile nature of the current ceasefire arrangements.



Brazil’s Lula Is on the Left. So How Has He Avoided Trump’s Scorn?

Brasília
— In the new regional order shaped by U.S. President Donald Trump’s approach to Latin America, Brazil has emerged as a notable exception. While ideological divisions have largely defined Washington’s relationships across the region, Brazil has managed to maintain a functional working relationship with the United States despite being led by a left-leaning government.

Under President Trump, the U.S. administration has generally viewed conservative governments in Latin America as natural allies, while treating leftist leaders with skepticism or open hostility. However, Brazil, governed by President Luiz Inácio Lula da Silva, a social democrat, has not followed this pattern.

Brazil is the only country in South America that openly resisted pressure and threats from the Trump administration while later succeeding in reestablishing constructive diplomatic ties. Analysts say this outcome reflects Brazil’s long-standing tradition of pragmatic foreign policy rather than ideological alignment.

For decades, Brazilian diplomacy has prioritized maintaining stable relations with a wide range of international partners, regardless of political orientation. This approach emphasizes dialogue, economic cooperation, and non-intervention, allowing Brazil to navigate shifts in global and regional power dynamics without becoming entrenched in geopolitical conflicts.

Brazil’s stance demonstrates how diplomatic consistency and strategic pragmatism can mitigate ideological tensions. Rather than confronting Washington directly on ideological grounds, Brasília focused on shared interests, particularly in trade, regional stability, and global governance.

As Latin America continues to adapt to changing U.S. foreign policy priorities, Brazil’s experience highlights an alternative model for engagement — one rooted in flexibility, institutional diplomacy, and a long-term commitment to balanced international relations.


What Is the SAVE America Act, and How Could It Change U.S. Voting?

 Washington, D.C. — Republicans in the United States Congress are pushing forward with the Safeguard American Voter Eligibility (SAVE) America Act, a proposed piece of legislation that would introduce new requirements for voter registration and participation in federal elections.

The U.S. House of Representatives is expected to vote on the bill on Wednesday. If passed, the SAVE America Act would require individuals to provide proof of U.S. citizenship when registering to vote in federal elections. In addition, voters would be required to present a government-issued photo identification that verifies citizenship in order to cast a ballot.

Supporters of the bill argue that the measure is necessary to strengthen election integrity and prevent noncitizens from registering and voting. Republican lawmakers have made the proposal a legislative priority for several years, citing concerns over vulnerabilities in the voter registration system. While available data indicates that cases of noncitizen voting do occur, such instances are considered rare and have not been shown to affect overall election outcomes.

Public opinion polls suggest that voter identification requirements are widely supported among Americans. However, the SAVE America Act has drawn strong opposition from Democratic lawmakers and voting rights advocates. Critics argue that the new requirements could disproportionately affect eligible voters, including low-income individuals, elderly citizens, and minority communities, potentially preventing millions of Americans from exercising their right to vote.

Democrats also warn that obtaining proof of citizenship and compliant photo identification could present logistical and financial barriers for many voters, particularly those updating or changing their voter registrations.

As debate over the bill continues, the House vote is expected to highlight the broader partisan divide over voting rights and election security ahead of future federal elections. The outcome of the vote will determine whether the SAVE America Act advances further in the legislative process.



Ideal Tax Ratio for Indonesia Difficult to Determine, Says Finance Minister

Jakarta, February 9, 2026
— Minister of Finance Purbaya Yudhi Sadewa stated that there is no precise benchmark for Indonesia’s ideal tax ratio in the 2026 State Budget (APBN), citing the rigid structure of the national tax system that limits rapid adjustment.

“It is difficult to determine the ideal figure. I don’t know,” Minister Purbaya said when speaking to reporters in Jakarta on Monday. He noted that Indonesia’s tax ratio has remained largely stagnant for decades, despite continuous growth in government expenditure.

According to the Minister, a tax ratio in the range of 11–12 percent would be sufficient to support the State Budget. He added that even achieving a level of 11–11.5 percent would provide significantly better fiscal space compared to current conditions.

However, Purbaya emphasized that increasing the tax ratio is a complex task that requires comprehensive and sustained efforts. These include system modernization, administrative reform, and changes in the conduct and performance of tax officials, which demand strong commitment across all levels of the Ministry of Finance.

The government is targeting an increase in the tax ratio from around 9 percent to 11–12 percent in 2026, a challenging objective given that revenue performance depends not only on economic growth but also on the effectiveness of tax administration and the integrity of tax officials.

Purbaya noted that while revenue shortfalls in previous years could be attributed to economic slowdown, such justification would no longer be valid if economic conditions improve but tax collection remains weak.

Historically, Indonesia’s tax ratio has fluctuated. After reaching 10.08 percent in 2024, it declined to around 9 percent in 2025. Data from the Directorate General of Taxes show the ratio fell to 8.42 percent in the first half of 2025 and stood at 8.58 percent in the third quarter, approaching levels seen during the 2020–2021 COVID-19 pandemic, when the ratio ranged between 8.33 and 9.11 percent.

Following that period, the tax ratio improved to 10.39 percent in 2022 and 10.31 percent in 2023, driven by tax reforms under the Harmonization of Tax Regulations Law and elevated global commodity prices.

Despite the renewed decline in 2025, Minister Purbaya expressed optimism that internal reforms within the Ministry of Finance—including staff rotation, strengthened management, and enhanced administrative and supervisory systems—will help improve tax performance and support fiscal sustainability in 2026.


Categories

Cari Blog Ini

Global Sport. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts